Pintu kamar terbuka. Sudah kuduga, pasti Rhea yang masuk. Aku terus saja membaca buku di karpetnya yang empuk tanpa mempedulikan kerusuhan yang dia buat. Ini memang kamarnya, dan dia berhak grasa-grusu di sini. Sepertinya dia mencari sesuatu. Tapi aku cuek saja. Dia lebih hapal settingan kamarnya dibanding aku. Aku masih membaca saat terdengar jeritan tertahan Rhea.
“Kenapa, Rhe?” Segera aku letakkan buku yang sedang kubaca, dan menghampiri Rhea yang duduk di ujung kasur.
Rhea tidak menjawab. Namun, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi padanya. Aku tertegun saat melihat tangan kanannya memegang cutter, dan goresan warna merah di tangan kirinya. Rhea tertunduk lemas.
“Kotak obat di mana?” tanyaku sambil mengobrak-abrik rak di kamar Rhea.
“Gak usah.”
“Lo jangan aneh-aneh! Obatin luka lo, terus cerita ke gue!”
“Gak usah, Cumi-cumi! Gue gak kenapa-napa.”
“Tapi gue serem,” aku menarik cutter dari tangannya. Masih ada bekas goresan di situ. Betapa suksesnya dia membuat luka menganga di tangan Rhea. Sayatan itu tidak cuma sekadarnya, tapi cukup panjang dan cukup dalam.
“Lo kalo maen jangan aneh-aneh. Lo kenapa?”
Rhea menggeleng, kali ini sembari membersihkan lukanya dengan alkohol. Aku tahu, pasti terasa perih. Namun tidak ada ekspresi apapun di wajah Rhea. Mulutnya juga tetap tak bersuara.
Aku tidak lagi mendesak dia bercerita. Biar saja. Nanti, jika dia ingin, dia pasti akan menceritakan semuanya padaku tanpa perlu aku desak. Hanya, aku takut Rhea tidak bisa mengontrol emosinya sebelum dia bersedia bercerita padaku. Sebab, sekali saja cutter itu meleset, bisa selesai seluruh ceritanya di dunia ini.
Kekhawatiranku tentu saja beralasan. Aku bukan anak baik-baik. Aku pernah berbuat seperti yang Rhea lakukan saat ini. Aku tahu bagaimana susahnya menahan emosi agar tidak mengarahkan cutter memotong urat darahku.
Aku tidak pernah menceritakan kebiasaanku masa laluku pada Rhea. Tidak pernah juga sekalipun Rhea melihatku menggores-gores tangan, meski dia pernah menanyakan ihwal bekas goresan samar bertuliskan NZ di pergelangan tanganku. Entah dari mana dia terpikir melakukan semua itu.
“Rhe, lo gak takut kalo urat lo kepotong?”
“Biar aja.”
“Tapi gue gak bisa ngebiarin.”
Jujur, aku masih trauma. Masih tergambar jelas dalam ingatanku bagaimana cutter yang aku pegang hampir memotong hidupku. Begitu berat aku mengontrol emosiku saat itu. Aku merasakan kekecewaan yang sangat, dan pada akhirnya mendorongku untuk melakukan hal yang biasa aku lakukan: menyayat tangan. Namun, jika biasanya aku membuat goresan di dekat siku, kali ini cutter aku arahkan ke pergelangan.
Pikiranku berperang. Sebagian menyuruhku segera melakukan itu, sebagian lagi mencegah. Peperangan batin yang sangat hebat. Hingga akhirnya aku berhasil melemparkan cutter yang aku pegang, kemudian membenamkan diri di bawah selimut. Aku selamat.
Tapi itu aku. Bagaimana denga Rhea? Bukannya tidak mungkin dia juga akan terpikir untuk mengiris pergelangan tangannya. Apakah Rhea bisa bertahan jika pikiran seperti itu menghantuinya?
“Cha,” Rhea buka suara juga. Tumben dia memanggilku dengan panggilan resmi. Biasanya dia menyapaku Cumi-cumi atau Sotong.
“Ya, Rhe. Kenapa?”
Rhea kembali menggeleng. Dia membanting tubuhnya di kasur. Lukanya sudah ditutupi kapas yang dibubuhi minyak kayu putih dan gula pasir, kemudian dibebat dengan perban. Aku terbiasa menutup lukaku dengan campuran dua benda tadi. Luka akan cepat mengering dan tidak meninggalkan bekas. Tapi catat: cuma untuk luka fisik, bukan untuk luka hati seperti yang didera Rhea.
“Rhe, gue tau banget kalo cara begini bisa bikin lo ngerasa lebih tenang. Gue cuma pesen, baik-baik jaga emosi lo,” ujarku pelan.
*****
Hmf… Rhea. Ada yang kurang dari cewek itu? Kalaupun ada, dia cuma kurang perhatian. Saking kesepiannya, dia sering menuliskan puisi-puisinya untuk bintang. Aku memang temannya, namun aku tidak bisa selalu bersamanya karena urusan kami berbeda. Kami hanya sesekali bertemu.
Aku tidak akan ge-er dengan menyangka “bintang” yang dia maksud adalah diriku. Dia punya kegemaran memandang langit malam, dan mengakui sepotong bintang sebagai bintangnya. Dari situlah puisi-puisinya bermunculan. Terkadang, dia juga menulis tentang dirinya sendiri, seperti sebait puisi yang aku temukan di tembok kamarnya.
Aku hanya satelit
Bersinar dengan bayang mentari
Tersenyum di langit kelam
Seolah cahaya itu milikku
Rhea Aluna Bulan. Itu namanya. Kesimpulan dari nama itu memang satelit. Rhea adalah satelit terbesar kedua milik Saturnus. Luna adalah nama lain dari Bulan, yang merupakan satelit alami milik Bumi. Kalau saja ayahnya bernama Palapa, sukseslah dia jadi benda angkasa.
Mungkin benar, setiap nama adalah doa. Kehidupan Rhea juga tidak berbeda jauh dengan deretan satelit di langit sana. Dia tidak akan bisa jadi planet, apalagi bintang. Dia terpinggirkan dari Bima Sakti. Paling tidak, itu yang aku tangkap saat Rhea memintaku datang menemaninya pada saat acara silaturrahim keluarga besarnya.
“O… ini yang namanya Affan. Wah, hebat, ya? Di Mesir ngambil apa?”
Cerocosan ibu-ibu membuat aku melirik ke sumber suara. Tidak jauh dari tempat aku dan Rhea duduk, ada Affan (kakak Rhea), orang-tuanya, dan ibu-ibu yang nyerocos tadi itu. Ayah dan ibu mereka dengan bangga memperkenalkan Affan yang baru lulus kuliah di negeri para onta pada semua yang datang. Hari ini adalah launching Affan, bukan Afgan.
“Rhe!” seseorang mendekati aku dan Rhea. Bapak-bapak. Belum sempat Rhea bersuara, bapak-bapak itu melanjutkan ocehannya. “Kuliah sana, ke luar negeri! Biar kayak Affan. Tuh, baru lulus aja udah dapet kerjaan enak, gajinya gede. Daripada di sini main-main aja, ngabisin duit orang tua.”
Rhea meremas tanganku sangat keras. Baru bapak-bapak yang langsung ngeloyor pergi itu yang menyapa Rhea. Itupun, buatku yang cuma orang lain, bukan sebuah sapaan yang mendamaikan. Padahal, aku yakin semua yang ada di sini kenal Sang Satelit. Hanya saja, keberadaannya tertutupi oleh planet. Dan bebatuan meteor menghujam satelit hingga ke dasarnya, meninggalkan kawah yang tidak akan pernah bisa hilang.
Meaningless. Aku tahu sangat berat. Sekuat apapun orangnya, bukan tidak mungkin akan terpuruk jika mengalami hal seperti ini. Aku pernah mengalaminya, namun berhasil selamat dengan dukungan dari orangtuaku.
Tapi Rhea cuma sendiri. Keberadaanku, yang cuma temannya, tentu tidak akan berpengaruh banyak untuk menyelamatkannya. Rhea butuh orang-tuanya. Namun mereka di sana bersama Affan. Cuma mereka yang bisa mendukung Rhea, dan mencegah dia berbuat di luar kesadarannya. Sebab, setahuku, meaningless sangat dekat dengan suicide. Sangat berbahaya buat kelangsungan hidup Rhea.
Aku melirik ke arah orang-tua Rhea. Mereka masih di sana, meski suaranya terdengar sampai sini. Tak ada sedikitpun tanda-tanda mereka akan menyudahi omongan tentang Affan, yang membuat Rhea semakin merasa terpuruk. Aku ingin menghampiri mereka dan meminta bantuan mereka untuk menyelamatkan Rhea dari jurang keterpurukan. Tapi bagaimana? Aku harus menjaga Rhea. Aku takut Rhea tiba-tiba menghilang dan, saat ditemukan, sudah… sudah…. Oh, tidak! Itu tidak boleh terjadi!
Rhea menyelinap pergi. Aku ikuti dia. Seperti biasa, tempat pelariannya kamar. Aku berniat mencegah agar dia tidak mengambil cutter dari rak buku. Tapi aku terlambat! Rhea sudah meraihnya, dan menempelkan cutter itu di pergelangannya.
“Siniin katernya, Rhe.” Aku berusaha mengambil cutter dari Rhea. Tapi dia malah menatapku sinis.
“Jauh-jauh!”
“Iya, tapi lo kemariin dulu katernya.”
“Jauh-jauh atau gue bunuh, Cumi?!”
“Lo kenapa, Rhe? Gue tau lo gak kayak gitu!”
Sekilas aku lihat, mata Rhea berkaca-kaca. Aku masih mencoba mengambil cutter itu, tapi pegangannya begitu erat. Yang harus aku lakukan adalah mengulur waktu dan mengalihkan perhatian Rhea. Namun, kesabaranku nyaris habis.
“Jauh-jauh, Cha! Keluar dari kamar ini! Lo pergi jauh-jauh. Gue gak mau lo kebawa-bawa.”
“Udah, Rhe! Cukup! Sekarang lo dengerin gue! Lo pikir dengan bunuh diri masalah lo selesai?”
“Tapi cuma itu yang bisa bikin gue tenang, walopun untuk sementara. Jauh-jauh, Cumi! Atau lo mau jadi korban gue?”
Aku beringsut menjauh saat dia mengarahkan cutter padaku. Aku ingin berteriak minta tolong. Tapi jelas percuma, di luar ramai dengan lantunan shalawat. Tiap aku mencoba mendekat, Rhea selalu mengancamku. Aku putar otak, mencari cara agar Rhea tidak jadi melaksanakan niatnya. Tidak mungkin aku menceramahinya tentang hakikat hidup atau tentang hati yang luasnya tak terbatas. Beberapa baris luka sudah dia buat di tangannya. Satu-satunya cara cuma….
“Auw…!!! Kenapa lo tendang gue, Cumi?!”
Fyuh…
Cutter itu terlepas, terlempar dari tangannya yang aku tendang tadi. Aku buru-buru mengambilnya, menutup, lalu aku lempar ke atas lemari. Rhea cuma bengong melihat aksiku. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia sangat menderita.
“Udah ya, Rhe? Jangan aneh-aneh lagi. Gue yakin lo bisa ngehadapin ini dengan bijak. Kelak, ortu lo akan sangat bersyukur punya anak kayak lo.”
Aku memeluknya. Dia terisak pelan di bahuku.
Tengah malam, saat memandangi langit