Posted: 4th June 2010 by Chaca in 1
Comments Off

maafkan ketidaksempurnaanku mengerti dirimu. aku hanya seorang yang penuh keterbatasan, dan mencoba untuk memberikan yang terbaik untukmu. aku hanya ingin memilikimu, membahagiakanmu, mencintaimu hingga akhir nafasku. akan kucoba untuk lebih mengerti dirimu. bantu aku… tersenyumlah, dan katakan kalau semua akan baik-baik saja. aku mencintaimu dengan segenap hatiku.

@SB: I luv U so much…

Satelit

Posted: 10th November 2008 by Chaca in Uncategorized
Comments Off

Pintu kamar terbuka. Sudah kuduga, pasti Rhea yang masuk. Aku terus saja membaca buku di karpetnya yang empuk tanpa mempedulikan kerusuhan yang dia buat. Ini memang kamarnya, dan dia berhak grasa-grusu di sini. Sepertinya dia mencari sesuatu. Tapi aku cuek saja. Dia lebih hapal settingan kamarnya dibanding aku. Aku masih membaca saat terdengar jeritan tertahan Rhea.

            “Kenapa, Rhe?” Segera aku letakkan buku yang sedang kubaca, dan menghampiri Rhea yang duduk di ujung kasur.

            Rhea tidak menjawab. Namun, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi padanya. Aku tertegun saat melihat tangan kanannya memegang cutter, dan goresan warna merah di tangan kirinya. Rhea tertunduk lemas.

            “Kotak obat di mana?” tanyaku sambil mengobrak-abrik rak di kamar Rhea.

            “Gak usah.”

            “Lo jangan aneh-aneh! Obatin luka lo, terus cerita ke gue!”

            “Gak usah, Cumi-cumi! Gue gak kenapa-napa.”

            “Tapi gue serem,” aku menarik cutter dari tangannya. Masih ada bekas goresan di situ. Betapa suksesnya dia membuat luka menganga di tangan Rhea. Sayatan itu tidak cuma sekadarnya, tapi cukup panjang dan cukup dalam.

            “Lo kalo maen jangan aneh-aneh. Lo kenapa?”

            Rhea menggeleng, kali ini sembari membersihkan lukanya dengan alkohol. Aku tahu, pasti terasa perih. Namun tidak ada ekspresi apapun di wajah Rhea. Mulutnya juga tetap tak bersuara.

            Aku tidak lagi mendesak dia bercerita. Biar saja. Nanti, jika dia ingin, dia pasti akan menceritakan semuanya padaku tanpa perlu aku desak. Hanya, aku  takut Rhea tidak bisa mengontrol emosinya sebelum dia bersedia bercerita padaku. Sebab, sekali saja cutter itu meleset, bisa selesai seluruh ceritanya di dunia ini.

            Kekhawatiranku tentu saja beralasan. Aku bukan anak baik-baik. Aku pernah berbuat seperti yang Rhea lakukan saat ini. Aku tahu bagaimana susahnya menahan emosi agar tidak mengarahkan cutter memotong urat darahku.

            Aku tidak pernah menceritakan kebiasaanku masa laluku pada Rhea. Tidak pernah juga sekalipun Rhea melihatku menggores-gores tangan, meski dia pernah menanyakan ihwal bekas goresan samar bertuliskan NZ di pergelangan tanganku. Entah dari mana dia terpikir melakukan semua itu.

            “Rhe, lo gak takut kalo urat lo kepotong?”

            “Biar aja.”

            “Tapi gue gak bisa ngebiarin.”

            Jujur, aku masih trauma. Masih tergambar jelas dalam ingatanku bagaimana cutter yang aku pegang hampir memotong hidupku. Begitu berat aku mengontrol emosiku saat itu. Aku merasakan kekecewaan yang sangat, dan pada akhirnya mendorongku untuk melakukan hal yang biasa aku lakukan: menyayat tangan. Namun, jika biasanya aku membuat goresan di dekat siku, kali ini cutter aku arahkan ke pergelangan.

            Pikiranku berperang. Sebagian menyuruhku segera melakukan itu, sebagian lagi mencegah. Peperangan batin yang sangat hebat. Hingga akhirnya aku berhasil melemparkan cutter yang aku pegang, kemudian membenamkan diri di bawah selimut. Aku selamat.

            Tapi itu aku. Bagaimana denga Rhea? Bukannya tidak mungkin dia juga akan terpikir untuk mengiris pergelangan tangannya. Apakah Rhea bisa bertahan jika pikiran seperti itu menghantuinya?

            “Cha,” Rhea buka suara juga. Tumben dia memanggilku dengan panggilan resmi. Biasanya dia menyapaku Cumi-cumi atau Sotong.

            “Ya, Rhe. Kenapa?”

            Rhea kembali menggeleng. Dia membanting tubuhnya di kasur. Lukanya sudah ditutupi kapas yang dibubuhi minyak kayu putih dan gula pasir, kemudian dibebat dengan perban. Aku terbiasa menutup lukaku dengan campuran dua benda tadi. Luka akan cepat mengering dan tidak meninggalkan bekas. Tapi catat: cuma untuk luka fisik, bukan untuk luka hati seperti yang didera Rhea.

            “Rhe, gue tau banget kalo cara begini bisa bikin lo ngerasa lebih tenang. Gue cuma pesen, baik-baik jaga emosi lo,” ujarku pelan.

*****

            Hmf… Rhea. Ada yang kurang dari cewek itu? Kalaupun ada, dia cuma kurang perhatian. Saking kesepiannya, dia sering menuliskan puisi-puisinya untuk bintang. Aku memang temannya, namun aku tidak bisa selalu bersamanya karena urusan kami berbeda. Kami hanya sesekali bertemu.

            Aku tidak akan ge-er dengan menyangka “bintang” yang dia maksud adalah diriku. Dia punya kegemaran memandang langit malam, dan mengakui sepotong bintang sebagai bintangnya. Dari situlah puisi-puisinya bermunculan. Terkadang, dia juga menulis tentang dirinya sendiri, seperti sebait puisi yang aku temukan di tembok kamarnya.

            Aku hanya satelit

            Bersinar dengan bayang mentari

            Tersenyum di langit kelam

            Seolah cahaya itu milikku

            Rhea Aluna Bulan. Itu namanya. Kesimpulan dari nama itu memang satelit. Rhea adalah satelit terbesar kedua milik Saturnus. Luna adalah nama lain dari Bulan, yang merupakan satelit alami milik Bumi. Kalau saja ayahnya bernama Palapa, sukseslah dia jadi benda angkasa.

            Mungkin benar, setiap nama adalah doa. Kehidupan Rhea juga tidak berbeda jauh dengan deretan satelit di langit sana. Dia tidak akan bisa jadi planet, apalagi bintang. Dia terpinggirkan dari Bima Sakti. Paling tidak, itu yang aku tangkap saat Rhea memintaku datang menemaninya pada saat acara silaturrahim keluarga besarnya.

            “O… ini yang namanya Affan. Wah, hebat, ya? Di Mesir ngambil apa?”

            Cerocosan ibu-ibu membuat aku melirik ke sumber suara. Tidak jauh dari tempat aku dan Rhea duduk, ada Affan (kakak Rhea), orang-tuanya, dan ibu-ibu yang nyerocos tadi itu. Ayah dan ibu mereka dengan bangga memperkenalkan Affan yang baru lulus kuliah di negeri para onta pada semua yang datang. Hari ini adalah launching Affan, bukan Afgan.

            “Rhe!” seseorang mendekati aku dan Rhea. Bapak-bapak. Belum sempat Rhea bersuara, bapak-bapak itu melanjutkan ocehannya. “Kuliah sana, ke luar negeri! Biar kayak Affan. Tuh, baru lulus aja udah dapet kerjaan enak, gajinya gede. Daripada di sini main-main aja, ngabisin duit orang tua.”

            Rhea meremas tanganku sangat keras. Baru bapak-bapak yang langsung ngeloyor pergi itu yang menyapa Rhea. Itupun, buatku yang cuma orang lain, bukan sebuah sapaan yang mendamaikan. Padahal, aku yakin semua yang ada di sini kenal Sang Satelit. Hanya saja, keberadaannya tertutupi oleh planet. Dan bebatuan meteor menghujam satelit hingga ke dasarnya, meninggalkan kawah yang tidak akan pernah bisa hilang.

            Meaningless. Aku tahu sangat berat. Sekuat apapun orangnya, bukan tidak mungkin akan terpuruk jika mengalami hal seperti ini. Aku pernah mengalaminya, namun berhasil selamat dengan dukungan dari orangtuaku.

            Tapi Rhea cuma sendiri. Keberadaanku, yang cuma temannya, tentu tidak akan berpengaruh banyak untuk menyelamatkannya. Rhea butuh orang-tuanya. Namun mereka di sana bersama Affan. Cuma mereka yang bisa mendukung Rhea, dan mencegah dia berbuat di luar kesadarannya. Sebab, setahuku, meaningless sangat dekat dengan suicide. Sangat berbahaya buat kelangsungan hidup Rhea.

            Aku melirik ke arah orang-tua Rhea. Mereka masih di sana, meski suaranya terdengar sampai sini. Tak ada sedikitpun tanda-tanda mereka akan menyudahi omongan tentang Affan, yang membuat Rhea semakin merasa terpuruk. Aku ingin menghampiri mereka dan meminta bantuan mereka untuk menyelamatkan Rhea dari jurang keterpurukan. Tapi bagaimana? Aku harus menjaga Rhea. Aku takut Rhea tiba-tiba menghilang dan, saat ditemukan, sudah… sudah…. Oh, tidak! Itu tidak boleh terjadi!

            Rhea menyelinap pergi. Aku ikuti dia. Seperti biasa, tempat pelariannya kamar. Aku berniat mencegah agar dia tidak mengambil cutter dari rak buku. Tapi aku terlambat! Rhea sudah meraihnya, dan menempelkan cutter itu di pergelangannya.

            “Siniin katernya, Rhe.” Aku berusaha mengambil cutter dari Rhea. Tapi dia malah menatapku sinis.

            “Jauh-jauh!”

            “Iya, tapi lo kemariin dulu katernya.”

            “Jauh-jauh atau gue bunuh, Cumi?!”

            “Lo kenapa, Rhe? Gue tau lo gak kayak gitu!”

Sekilas aku lihat, mata Rhea berkaca-kaca. Aku masih mencoba mengambil cutter itu, tapi pegangannya begitu erat. Yang harus aku lakukan adalah mengulur waktu dan mengalihkan perhatian Rhea. Namun, kesabaranku nyaris habis.

            “Jauh-jauh, Cha! Keluar dari kamar ini! Lo pergi jauh-jauh. Gue gak mau lo kebawa-bawa.”

            “Udah, Rhe! Cukup! Sekarang lo dengerin gue! Lo pikir dengan bunuh diri masalah lo selesai?”

            “Tapi cuma itu yang bisa bikin gue tenang, walopun untuk sementara. Jauh-jauh, Cumi! Atau lo mau jadi korban gue?”

            Aku beringsut menjauh saat dia mengarahkan cutter padaku. Aku ingin berteriak minta tolong. Tapi jelas percuma, di luar ramai dengan lantunan shalawat. Tiap aku mencoba mendekat, Rhea selalu mengancamku. Aku putar otak, mencari cara agar Rhea tidak jadi melaksanakan niatnya. Tidak mungkin aku menceramahinya tentang hakikat hidup atau tentang hati yang luasnya tak terbatas. Beberapa baris luka sudah dia buat di tangannya. Satu-satunya cara cuma….

            “Auw…!!! Kenapa lo tendang gue, Cumi?!”

            Fyuh…

            Cutter itu terlepas, terlempar dari tangannya yang aku tendang tadi. Aku buru-buru mengambilnya, menutup, lalu aku lempar ke atas lemari. Rhea cuma bengong melihat aksiku. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia sangat menderita.

            “Udah ya, Rhe? Jangan aneh-aneh lagi. Gue yakin lo bisa ngehadapin ini dengan bijak. Kelak, ortu lo akan sangat bersyukur punya anak kayak lo.”

            Aku memeluknya. Dia terisak pelan di bahuku.

 

                                                     Tengah malam, saat memandangi langit             

Berjuta Rasa Cinta

Posted: 22nd March 2008 by Chaca in Uncategorized
Comments Off

Bila cinta menggugah rasa

Begitu indah mengukir hatiku

Menyentuh jiwaku

Hapuskan semua gelisah

(Begitu Indah-Padi)

Mirip-mirip lirik lagu di atas, kalo kita lagi jatuh cinta, semuanya akan kerasa serba indah. Ada yang ngatain kita, kita cuek aja dan nganggap itu pujian. Ada yang mukul kita, kita juga cuek aja, malah ngerasanya belaian. Ada yang maki-maki, kita cuek lagi. Kita bisa seperti itu, karena hati kita yang lagi terkena virus indahnya cinta, yang secara nggak langsung pengaruh ke mood kita juga.

Kita serasa berada di taman penuh bunga dengan pepohonan rimbun, terus kita lari-lari kecil ngiterin sambil nyanyi. Wacks! India buangget! Tapi, bukankah seperti itu indahnya jatuh cinta, teman-teman? Bukan…!!! Malahan bisa jadi indahnya nggak tergambar sama kata-kata, susah buat didefinisikan, sama kayak artinya cinta itu sendiri!

Mau tau aneh-anehnya kita pas jatuh cinta? Lanjut!!!!

Tentang Dia

Karena kita ini manusia yang punya rasa dan hati, tentunya suatu saat hati kita akan terjatuh. Ups! Ngeliat cowok handsome nan keren, ditambah tatapan teduh (buat persediaan kalau ujan gede dan lagi nggak bawa payung), raut muka bercahaya (sehingga nggak perlu senter lagi buat jalan di tempat gelap), bodi atletis (buat jaga-jaga kalau ada yang usil di jalanan), cool, ketua OSIS, Rohis, anak band atau anggota tim basket, rasanya hati ini udah susah banget dijaga. Ugh….

Sedikit-sedikit, kita mulai cari tau, siapa sebenarnya sosok yang menggoyahkan hati itu. Pangeran dari planet Mars atau turunan Pangeran Sabrang Lor-kah dia yang mungkin akan jadi pangeran di hati kita. Mulai kasak-kusuk, tanya kanan kiri. Mulai was-was kalo ada cewek yang dekat-dekat sama dia. Mulai cek dan ricek kalo dapet berita tentang dia.

“Dia udah punya cewek apa belom?” atau

“Kriteria ceweknya dia yang kayak gimana, sih???”

Dua hal ini yang mungkin akan kita buru duluan datanya. Kalo perlu, kita sewa intel demi mendapatkan data seakurat mungkin. He… he….

Dan kalau dia masih jomblo?

Pucuk dicinta ulam tiba! Siapkan strategi berikutnya!

Demi Nama Cinta

Apa saja pasti kan kulakukan hanyalah untukmu, harapan hidupku

Sepenggal lirik lagu Jikustik di atas mungkin ngegambarin kesungguhan hati ini buat jadi ceweknya cowok yang berhasil bikin hati kita rontok. Apalagi kalo kita udah berhasil dapetin kriteria cewek impiannya dia.

Nggak kerasa juga, lama-lama kita mulai berubah. Dari yang tadinya cuek banget sama penampilan, sedikit-sedikit jadi merhatiin demi tampil oke di depan dia. Yang tadinya atraktif tiba-tiba jadi jaim dan ikutan cool abis kalo berhadapan sama dia. Maunya ketemu terus demi ngedenger sapaannya dan lihat senyumnya, bahkan rela mengikuti ke manapun dia pergi, meski kita nggak tau dia juga suka sama kita atau enggak. Tapi kan usaha….

Yang suka sama cowok basket, dengan rajinnya nungguin cowok itu latihan, meski berkali-kali ketimpuk bola basket. Selalu siap sedia nonton bawa pasukan kalo dia ada kompetisi. Malahan, kalo perlu, kita ikutan kelompok cheerleaders. Kan cheerleaders selalu ada pas tim basket tanding. Bela-belain latihan cheers sampai jatuh bangun, keseleo, luka-luka plus benjol. Tapi percayalah… semua demi cinta!

Kalo yang suka sama pengurus OSIS, mulai aktif ikut-ikut kegiatan OSIS. Yang tadinya males banget ikut bakti sosial, sekarang malah minta dilibatin jadi panitia. Kalo sang gebetan keliling-keliling survey tempat baksos, kita ikutan juga meski kepanasan dan kehausan. Whatever, lah! Yang penting bisa deket, gitu yang selalu kita ucapin dalam hati kalau mulai ngerasa sengsara.

Suka sama anak band? Nungguin di depan studio tempat dia latihan, karena kita gak boleh masuk. Selain itu, belajar nyanyi, dunks! Biar nanti kalau udah jadian bisa kayak Akri (Anang dan Kris Dayanti), atau kayak Yoyok ‘Padi’ sama Rossa. Terbayang semua yang indah-indah….

Dan… yang pasti, yang akan dilakukan fansclubnya anak Rohis yaitu ikutan masuk masjid dan ikut pengajian! Nambah-nambahin pengetahuan agama supaya bisa diajak diskusi. Terus, ngebiasain diri ngomong ke temen-temen pake ‘ana’, ‘antum’, ‘akhi’, atau ‘ukhti’. Maksudnya, biar nggak terlalu berbeda, getoh!

Yang paling penting, semua hal-hal tadi akan kita lakuin dengan senang hati, meskipun sebelumnya kita benci banget sama kegiatan-kegiatan itu. Tapi… tak apalah. Demi nama cinta! Meskipun… kita ngelakuin itu nggak sendiri, kan? Pasti ada teman kita yang juga kita tarik-tarik demi ngikutin kita.

Demi Sahabat

Atas dasar kata-kata ‘solidaritas’ yang sering kita dan teman kita dengungkan (berdengung? Emangnya lebah?), Dengan enaknya kita narik-narik dia. Atas dasar kata ‘solidaritas’ itu juga, teman kita tetap ikut dan mencoba untuk tetap tersenyum. Ya… demi sahabat!

Banyak yang bilang, orang jatuh cinta itu egois. Mungkin temen-temen banyak yang nggak setuju, tapi… ini beneran, lho! Kondisi di atas (dengan kita suka narik-narik temen kita supaya selalu ngikutin kita) udah jadi bukti keegoisan kita. Apa kita pernah nyoba buat nyelamin perasaannya dia? Dia suka atau enggak? Kita nggak pernah tau!

Padahal, kalau di sekolah, begitu kita nyampe di kelas, dia duluan yang kita cari. Kita ada masalah, dia duluan yang kita curhatin. Kita ada utang, dia duluan yang minjemin duit. Kita ada PR, dia duluan juga yang dicontekin. Nah, begitu kita jatuh cinta, dia duluan juga yang kita tarik-tarik, bahkan mungkin aja kita manfaatin dia jadi intel ato comblang.

Hiks, nggak jarang, sahabat kita nangis dalem hati gara-gara kita lagi jatuh cinta. Dia ngerasa tersakiti dan terjajah hak-haknya (waduh… bahasanya udah rada berat serem, lagi!). Tapi kita nggak pernah tau! Kita tetap ngerasa dia baik-baik dan stabil aja.

Bukan, bukannya sahabat nggak seneng kalau kita punya cowok. Dia justru malahan serem kalau kita sampe nggak suka sama cowok. Dia juga udah tau kalau waktu kita akan banyak tersita sama cowok dibanding sama dia. Yup, karena dia sahabat kita, dia pastinya paham banget sama kita. Dan sebagai sahabat, kita juga harus paham sama dia.

Misalkan aja, kita tau kalau sahabat kita benci banget sama basket gara-gara waktu kecil mukanya pernah ketimpuk bola. Eh… kita malah dengan sengaja setengah maksa nyuruh dia nemenin nonton basket. Walaupun akhirnya dia ikut juga, tapi dia ikutnya juga dengan sangat terpaksa, atas nama solidaritas. Harusnya, kita bisa paham gimana perasaan dia saat itu, saat mengenang lagi masa lalunya.

Sahabat juga akan sangat merasa kehilangan waktu kita jaim dan jadi ‘orang lain’ demi inceran kita itu. Yang dia rasa bukan berhadapan sama kita, tapi sama orang lain yang terperangkap dalam sosok kita. Nggak jarang, kalo nggak ada saling pengertian, sahabatan bisa bubar cuma gara-gara dia nggak bisa nerima perubahan kita.

Sahabatan juga sering bubar kalau teman ngasih pendapat ke kita soal cowok yang kita suka itu. Kalau pendapatnya nggak sesuai sama keinginan kita (atau nyebutin kejelekannya), kita akan marahan sama teman kita dan menganggap dia udah bicara bohong dan bikin fitnah.

Ditambah lagi kebiasaan curhat kita yang sering nggak kenal waktu. Dengan asyiknya kita ceritain soal cowok itu di tiap saat kita ketemu sama sahabat. Di kelas, di kantin, di kendaraan, ato kita sampe bela-belain nelepon sahabat pas abis ketemu sama inceran.

Sebagai manusia biasa, sahabat juga adakalanya bosen sama obyek curhatan kita, yang menurut dia nggak penting banget! Apalagi kalo kita ngulang kata-kata dan pertanyaan yang hampir sama setiap hari. Soalnya, setiap kali kita tanya hal yang sama, dia juga bakalan jawabnya dengan jawaban yang sama juga. Lama-lama, dia bikin kaset buat ngerekam jawaban dan kaset itu yang dia kasih ke kita biar kita gak tanya-tanya dia lagi. Kecuali, kita cerita dengan topik yang sama tapi obyeknya beda. Misalnya aja hari ini jatuh cinta sama cowok botak, besok sama yang setengah gondrong berpolem, lusanya sama yang jenggotan, besoknya lagi sama sapi, terus sama badak. (Bosen sih enggak, cuma serem doang, kok!)

Teman Baikku

Teman kita kan juga manusia yang punya rasa dan hati dan samasekali nggak bisa disamain sama yang namanya pisau belati. Jadinya, nggak harus melulu dia yang ngertiin kita, tapi kita juga musti pahamin dia kalau pengen tetap langgeng. Walaupun kita ngerasa teman kita adalah soulmate, kembaran ketemu gede, atau orang yang paling sehati.

Aku sih nggak bermaksud buat bilang kalau kita jatuh cinta itu mengancam berlangsungnya persahabatan. Beneran. Gak maksud!

Karena cinta itu buta, kita perlu ’mata’ yang lain untuk melihat, saat-saat kita nggak sanggup untuk melihat kebenaran. ’Mata’ kita itu sahabat. Dia yang akan paling duluan ngasih masukan ke kita soal kejelekan-kejelekan cowok yang kita suka, supaya kita nggak terjerumus nantinya. Kita nggak sangup buat ngelakuin itu sendiri, kan?

Jatuh cinta juga bisa bikin kita kehilangan kontrol diri. Yup, dengan bersedia ngelakuin apa aja demi inceran. Saat-saat itulah kita butuh sahabat yang bisa mengontrol kita kalo-kalo kita ngelakuin kesalahan fatal, yang mengancam harkat dan martabat (martabak? Nyam….). Sekali lagi, kita juga nggak sanggup buat ngelakuin ini.

Banyak hal yang bisa dilakukan sahabat saat-saat kita lagi terlena indahnya cinta. Meski susah buat milih antara persahabatan sama cinta, kita tetep harus milih juga. Wong cowok itu belom jadi apa-apanya kita, kok! Boleh aja jatuh cinta, tapi sahabatan tetep harus dijaga.

Supaya hal yang begitu indah itu nggak cuma dirasa sama kita. Supaya kita bisa membagi keindahan itu sama sahabat kita. Supaya semuanya jadi tambah begitu indah….

Dalam Sebuah Ikatan Hati

Posted: 22nd March 2008 by Chaca in Uncategorized
Comments Off

Jadikanlah aku pacarmu

Kan kubingkai slalu indahmu

Jadikanlah aku pacarmu

Milikilah kisahku

                                                             (J.A.P-Sheila On 7)

            Wuah… rasanya seneng banget ya kalau ada cowok yang nyanyiin lagu ini sepenuh hati buat kita. Rasanya bagaikan terbang menembus pelangi lewati langit tujuh bidadari. Hati terasa berwarna dengan percikan sinar bintang. Yup! Dan kita akan ngebalas ucapan itu dengan lagu:

Kau jadikan aku kini

Wanita yang kau pilih

Untuk jadi kekasihmu….

                                                             (Wanita Yang Kau Pilih-Rossa)

            Sebentar-sebentar! Kok jadi kayak di India lagi ya berbalasan lagu begini?

            Perasaan yang tadinya begitu indah sekarang jadi tambah indah. Kita udah punya seseorang untuk berkasih sayang, untuk berkeluh kesah, dan yang terpenting, untuk mentraktir kita (matre buangget seeehhh??)

            Begitu banyak lagu yang mengungkapkan indahnya jalinan cinta, meski sebenernya, indahnya jalinan cinta itu cuma bisa dirasain sama orang yang bersangkutan doang. Coz, kisah cinta tiap orang kan beda-beda. Kesannya juga pasti beda-beda.

            Yeah, awal-awal jadian emang kerasa indah banget. Ke mana-mana selalu berdua, mirip permen karet nempel di baju, nggak bisa dilepas. Sehari nggak ketemu rasanya udah kayak berabad-abad. Telepon atau sms yang cuma sekedar basa-basi nanyain makan dibilang perhatian.

            Tapi… itu awal-awalnya, lho! Selanjutnya? Baca lagi!

 

 

Virus Cemburu

            Sehari gak ditelepon, besoknya kita nyap-nyap nyangkain dia selingkuh. Malem minggu nggak dateng, marah-marah juga, nyangkanya selingkuh juga. Ketemu di jalanan sama cewek lain, tetep aja marah dan nyangkain selingkuh. Lama-lama, hari yang tadinya penuh cinta sekarang dirasa berat banget.

            Wajar nggak sih kalau cemburu?

            Hm… aku sering banget dikasih pertanyaan begini. Wajar apa enggak? Aku punya dua jenis jawaban buat pertanyaan ini, pertama jawaban berdasarkan orang yang lagi cinta, kedua jawaban berdasarkan logika.

            Pertama, menurutku wajar. Dia kan punya ‘komitmen’ khusus sama kita. Harusnya dia nggak ngelanggar hal itu. Dengan minta kita jadi pacarnya aja secara nggak langsung dia berkomitmen akan selalu menelepon kita, akan selalu setor muka dan martabak di malem minggu, dan siap sedia nganterin kita ke manapun kita mau. Nah, ketika dia ngelanggar komitmen itu, kita wajar untuk curiga.

            Kedua, nggak wajar. Emangnya dia itu siapanya kita? (Pasti semuanya jawab: Pacar…!!!! Ya kan?) Apa hak kita sama dia? Apa kita punya hak untuk mengekang dia? Bukannya secara hakiki kita nggak punya komitmen apapun?

Kita juga nggak mau kan kalau seandainya dia mengekang kita. Kita juga bakalan gondok abis kalau dia marah-marah cuma gara-gara kita temenan sama cowok lain. So, satu sama!

Daripada cemburuan nggak jelas dan nggak beralasan, mendingan nyantai aja dan berusaha buat tetep berpikiran positif. Meski banyak yang bilang kalau cemburu itu tanda sayang, bukan berarti nggak cemburuan nggak sayang. Sayang kan bisa diungkapin dengan cara lain yang nggak makan hati! Masalahnya, kalau kita cemburu, kita juga kan yang marah-marah sendiri. Kita juga yang nahan perasaan sendiri. Ntar, yang kurus kita-kita juga!

Bukankah saling percaya itu lebih baik? Kalau dia kita kasih kepercayaan, bukannya dia juga nantinya bakalan percaya sama kita? Dan kita juga akan ngerasa lebih baik dikasih kepercayaan daripada dikekang lewat cemburu. Kita masih tetep bebas dan merdeka buat ngejalanin aktivitas kita sehari-hari. Ya kan?

Kau Milikku

            Perasaan ini juga yang sering hadir di tengah-tengah orang pacaran. Konon, rasa memiliki ini juga yang berpotensi nimbulin cemburu. Rasa ini muncul karena adanya ‘komitmen’ jadian itu tadi. Dengan adanya pengucapan ikrar pacaran, artinya kita sudah saling memiliki. Weits, ya nggak gitu!

            Sebenernya rasa memiliki ini bagus kalau dibina. Kita jadi tambah perhatian sama dia. Ya… misalkan aja tiba-tiba liat dia kering kerontang, kita bakalan nunjukin perhatian dengan nanya-nanya kenapa dia bisa kerontang begitu, dan bantu dia nyari solusinya. Misalkan aja dia kehausan, kita kasih air. Atau dia abis disetrap dijemur di bawah tiang bendera karena nggak ngerjain PR, kita semangatin dia supaya rajin bikin PR, bukan bantuin bikinin PR, lho!

            Tapi kadang, rasa memiliki yang melampaui batas bisa bikin bete, dan hubungannya jadi bias. Bias antara pacar dan tukang ojek, misalnya. Kita punya cowok yang punya motor. Setiap kita mau ke mana-mana, kita minta anter sama dia, juga minta jemput. Lho, bukankah tukang ojek juga melakukan hal yang sama? Dia juga selalu siap antar-jemput. Malahan, tukang ojek dibayar sebagai ganti bensin dan tenaga. Pacar kan enggak. Kalau kita emang sayang sama dia, jangan samakan dia dengan tukang ojek! Cukuplah sewaktu-waktu aja kita minta bantuannya dia. Cuma sekedar untuk nunjukin kalau kita masih memerlukan dan menghargai dia. Nggak setiap saat setiap waktu. Kan kasian juga uang bensinnya dia! Meski cinta emang butuh pengorbanan, tapi ingatlah, harga BBM udah naik! Jadi cewek mandiri itu asyik, lho!

            Dan kita juga sering nggak peduli sama kesibukannya dia. Sering kita nuntut dia untuk selalu ada di dekat kita pas kita butuhin. Dan dia, karena nggak tega sama kita, dia bela-belain juga dateng. Kita nggak tau apa yang dia korbanin buat menuhin permintaan kita. Bisa jadi dia bolos dari kerjaannya dan diomelin bosnya (kalau pacar udah kerja, neh!). Atau bisa juga dia diomelin sama ibunya, karena tadi itu dia lagi nguras bak mandi. Ada banyak resiko yang harus dia tempuh demi kemanjaan kita. Hm… sekali lagi, cinta emang butuh pengorbanan. Tapi sekali-sekali dong kita juga berkorban buat dia dengan nggak selalu nyusahin dia dan peduli sama lingkungannya. Dia kan juga bukan milik kita pribadi! Masih milik ortunya, milik kantornya, milik sekolahnya, milik masyarakat juga! Dan dia juga punya urusan pribadi, yang kita nggak perlu tau.

 

Aku Percaya Padamu

            Tadi emang aku saranin buat saling percaya, supaya nggak cemburuan dan kurus kering sendiri. Tapi kali ini aku nyaranin supaya nggak seratus persen percaya sama cowok, sekalipun dia pacar kita. Konteksnya beda, bo!

            Jangan percaya seratus persen sama ucapannya cowok, apalagi kalau dia udah mulai ngerayu! (Apa seeehhhh???) Yup! Karena barangkali, dia cowok yang beda visi-misi sama kita! Sebelum nangis Bombay, mendingan jaga-jaga aja dulu.

            Orang yang lagi terbuai dalam alunan cinta biasanya jauh dari logis. Apalagi kita, para cewek. Demi nama cinta, kita bisa aja percaya seratus persen sama cowok itu, tanpa kita tahu pasti siapa dia sebenernya. Karena kita nggak tau apa isi otaknya dia, mendingan kita hati-hati dan berusaha untuk tetap logis, gak terbuai sama rayuan!

            Susah juga kan kalo kita nggak terlalu kenal sama cowok itu. Meski selama pacaran kita ngerasa tahu banyak hal tentang dia, tapi bukankah selama orang pacaran banyak sifat dan sikap asli yang ditutup-tutupin? Kita nggak akan pernah tau kalau misalkan dia itu buaya darat, pemangsa cewek-cewek.

            Sekali lagi, jangan percaya seratus persen sama apa yang diucapkannya! Karena itu bisa jadi bumerang buat kita, meskipun mengatasnamakan cinta. Malahan, kita harus waspada kalo dia selalu mengatasnamakan cinta di setiap berbuatannya. Karena kita sendiri yang nanti akan kena batunya. Kita sendiri juga yang akhirnya sengsara, sementara dia entah udah ada di bumi belahan mana, tertawa-tawa penuh kemenangan. Nggak mau banget, kan!

            So, tetaplah logis! Gunakan hati kecil untuk bertindak dan mengambil keputusan dan jangan ikutin nafsu. Karena hati kecil akan selalu menunjukkan pada kebaikan, sedangkan nafsu akan menbinasakan dan menyengsarakan.

            Kita pastinya tau dong apa yang terbaik buat kita sekarang dan masa depan kita. Dan buatlah janji, kalau kita nggak akan merusak masa depan kita sendiri, di dunia maupun di akhirat. Oke?

Cinta Tak selamanya Indah

Posted: 22nd March 2008 by Chaca in Uncategorized
Comments Off

Kau…

Menyisakan tangis

Pertengkaran semalam

Di antara kita

Kini…

Kuharus berdiri

Di tepian hati

Bimbang tuk memilih

                                                            (Maaf-Jikustik)

            Masa-masa yang indah udah berlalu, kini masanya saling membenci satu sama lain. Entah karena siapa dan apa, biasanya pertengkaran (bisa malem, bisa juga siang) bisa aja terjadi. Masa-masa penuh cinta yang dulu-dulu itu bagaikan sudah dilupakan. Dan kini saatnya bertengkar!

            Survey membuktikan, lama-lama orang pacaran bisa jenuh juga. Sebabnya karena sepanjang waktu terus ngelakuin hal-hal yang sama. Bayangin aja, pacaran selama tiga taun, tiap malem minggu kudu dateng dan bawa martabak. Lama-lama kan bosen juga! Udah kehabisan kata yang mau diomongin. Nonton, jalan-jalan, makan-makan, setiap saat dengan orang yang sama, bosen juga! Nggak cuma kita, dia juga bosen.

            Karena bosen itulah kita cari penyegaran. Mulai membuka diri trus temenan sama banyak orang, nggak terkecuali sama temen cowok. Mulai jarang ketemuan, supaya pas ketemu kangen. Tapi yang ada malahan berantem! Dia nuduhnya kita selingkuh, kita menghindar dari dia, wuah, pokoknya banyak tuduhan-tuduhannya.

Kalau udah begitu, kita-kita juga yang sengsara, meski dia juga bakalan minta maaf. Kita lagi yang makan hati sendiri. Ntar, kita juga yang kurus sendiri dan putus asa sendiri.  Lantas?

 

Bercucuran Air Mata

            Nggak bisa dihindari, dalam suatu hubungan, apapun bentuknya pasti ada yang namanya marahan. Sebab utama marahan ini karena nggak ada saling pengertian. Nah, kenapa nggak dikomunikasikan baik-baik aja dulu sebelum marahan? Kan kita-kita juga yang nggak enak kalau sampe marahan.

            Lantas, yang biasa terjadi setelah marahan itu ya nangis-nangis  Siapa sih yang bercucuran air mata? Ya kita, lah! Nggak mungkin banget dia! Apalagi kalo dia ngerasa kita yang mulai permasalahin. Meskipun masalah itu jelas dia-dia juga yang bikin, tapi dia tetap cuek aja.

            Ini nggak adil banget, Gals! Masa’ dia yang bikin masalah kita yang frustasi? Bahkan kita sampe ninggalin urusan-urusan kita yang lainnya cuma buat nangis-nangis, sementara dianya adem ayem aja?

            Boleh deh nangis, tapi sebentar aja, ya! Dua jam cukup kan? Abis itu, balik ke kehidupan semula dengan normal. Coz, life must go on. Apa lingkungan kita mau tahu kalo kita nggak bisa memenuhi kewajiban kita cuma gara-gara kita nangis-nangis? Apa guru dan dosen mau peduli sama penderitaan kita? Nggak banget, kan? (Whew, kayak mereka nggak pernah muda aja!)

            Terlalu banyak hal yang sayang banget kalau kita korbanin buat nangis-nangis nggak jelas begini. Banyak hal positif yang bisa kita cari, supaya kita bisa berpikir jernih, nyari jalan keluar yang terbaik untuk kita dan dia. Jangan buang-buang waktu untuk hal-hal yang nggak jelas!

Daripada nangis-nangis, mending cari kesibukan yang menghasilkan. Misalkan nulis cerita ato bikin lagu. Kalau ceritanya bisa diterbitin, kan lumayan tuh kita dapet penghasilan ekstra dari marahan. Kalo gitu… sering-sering aja marahan, biar kaya! Hue… he… he…..

Ato bisa juga cari temen terbaik, trus curhat. Dengan cerita ke orang lain, kita bisa ngelihat masalah kita dari sudut pandang yang berbeda. Dan temen, mungkin aja ngasih solusi yang selama ini nggak pernah kepikiran sama kita. Paling enggak, dengan cerita kan udah mengurangi setengahnya beban.

 

Cuek

            Waktu itu pernah ada seorang temenku yang lagi marahan sama cowoknya dan minta aku kasih saran. Aku kasih juga saranku, tapi sedikit, karena aku bukan konsultan cinta. Waktu itu aku saranin dia supaya cooling down dulu, nggak nelepon, gak sms dan gak ketemuan.

            Temenku protes berat. Katanya hal-hal kayak gitu justru mengancam hubungan mereka. Kalau tadinya marah-marah karena ngerasa kurang perhatian, dengan dicuekin kayak tadi ya tambah ngerasa nggak diperhatiin. Lama-lama beneran bubaran.

            Sebenernya maksudnya gini, dengan cooling down, cuek-cuekan, bahkan gak ketemuan, ngasih peluang kita dan dia buat berpikir dan menata hati lagi. Introspeksi dan menyadari kesalahan masing-masing. Waktunya buat kita berdialog sama hati kita, tentang kita dan dia. Apa aja yang udah dia lakuin buat kita, dan apa aja yang udah kita lakuin buat dia. Dan yang terpenting, gimana rasa yang ada di hati kita. Apa masih sama kayak dulu waktu pertama jadian atau udah berubah?

            Selain itu, kita jadi lebih punya waktu buat membahagiakan diri sendiri. Kalau dulu setiap hari kita disibukin sama sms atau telepon dari dia yang lumayan gak penting (misalnya aja nanyain udah makan apa belon, atau apa lauk yang dimasak nyokap), sekarang ini kita punya waktu buat perhatiin temen-temen kita, yang mungkin aja terlupakan sejak kita jadian. Ato… kita manfaatin waktu yang biasanya kita pake buat jalan-jalan sama dia dengan baca-baca buku ato surfing internet. Lumayan kan, ada tambahan ilmu yang masuk ke otak kita. Dan jadi lebih bermanfaat.

            Mengenang masa lalu saat jomblo juga jadi hal yang asyik. Gimana serunya kita jalan sama temen-temen satu gank ke mal, terus serunya waktu jadi comblang buat temen, main ke rumah temen dan pulang malem tanpa ada yang ribut (selain ortu, tentunya), wah… pokoknya mengingat masa lalu yang indah-indah. Mengingat masa lalu itu juga ngebantu kita menilai, enakan jadi jomblo ato punya pacar. Huayo, enak mana?

 

Minta Maaf Duluan

            Ups, jadi keasyikan nyuekin dia, nih! Kelamaan kita cuekin, dia nggak juga minta maaf. Apa yang harus diperbuat?

Jangan tengsin buat minta maaf duluan sama cowok. Apalagi kalau kita ngerasa kita yang salah. Nggak enak kan kalo terus-terusan marahan sama orang yang disayangin?

            Pikirin baik-baik keuntungan dan kerugian minta maaf duluan. Dari situ, kita akan lebih tau tindakan mana yang lebih tepat buat kita ambil. Tapi… pikirkan dengan hati yang bersih dan tenang.

            Sebelum tiga hari! Ada hadits yang bilang, kalo seorang muslim nggak boleh mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari. Nah, kalo kita nungguin dia, ntar keburu nyampe limit tiga hari itu. Udahlah, daripada banyak-banyak numpuk dosa, mendingan minta maaf, terus putusin!

            Apa?! Putus?!

Sabar… sabar… jangan angot dulu denger kata-kata ‘putusin’. Masalah ini kita bahas nanti aja, oke? Tapi sih, yang jelas, daripada numpuk dosa, mendingan putusin!

            Dan kita selalu pasif dalam bertindak. Kita selalu nunggu cowok yang ngomong duluan. Kalo kita udah nggak nyaman dan udah merana, buat apaan lagi diterusin? Apalagi hasil pertapaan kita mengatakan seperti itu. Ato nunggu dia yang ngucap kata putus, terus kita nangis-nangis lagi? Daripada lama-lama nunggu, mendingan diputusin, atau kita minta kejelasan dari dia, supaya kita bisa nentuin langkah kita selanjutnya.

            Tapi inget, langkah kita selanjutnya nggak serta-merta bergantung sama dia. Sebagai manusia yang merdeka, kita juga berhak untuk menentukan langkah kita tanpa perlu campur tangan orang lain. Kalo biasanya kita selalu minta pendapat dia sebelum bertindak, sekarang saatnyalah kita percaya sama keputusan yang diambil sama diri kita sendiri. Dan kalau nggak marahan, belom tentu kan kita bisa jadi lebih dewasa dan mandiri?

Akhiri Dengan Indah

Posted: 22nd March 2008 by Chaca in Uncategorized
Comments Off

Ketika selamanyapun harus berakhir

Akhirilah ini dengan indah

Kau harus relakan

Setiap kepingan waktu dan kenangan

                                                                  (Akhiri Ini Dengan Indah-Jikustik)

      Saatnya menangis, Gals! Inilah saatnya keindahan cinta yang dulu dimilikin hilang lenyap begitu aja. Tapi… apa ada perpisahan yang indah kayak lirik lagu di atas? Bukannya selama ini, perpisahan akan meninggalkan kebencian di hati masing-masing, meskipun masih ada setitik rasa cinta itu? Apakah ada?

      Selama ini yang terjadi, perpisahan (baca: putus) lebih sering diwarnain sama aksi marah-marah, setelah diawali dengan marahan juga. Masing-masing saling menjelekkan. Semua kejelekan yang ditutup-tutupin dan coba dimaklumin pas jalan bareng terkuak dan kebongkar semua. Boro-boro akan berakhir dengan indah.

      Mungkin aja perpisahan kayak begini ada. Karena masing-masing bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Lho, bisa mengerti dan memahami kok malah putus? Justru itulah, mereka bisa mengerti dan memahami kalau mereka ternyata nggak bisa mengerti satu sama lain dan kalau diterusin juga percuma dan sama aja bikin masalah. (Makin binun ya? Baca lagi baik-baik!)

      Perpisahan yang baik-baik biasanya dilatarbelakangi sama besarnya cinta satu sama lain, pemahaman agama masing-masing, dan yang tadi, saling pengertian. Tapi tetap aja, seindah apapun, putus tetap bikin kita nangis-nangis.

Nangis-nangis sepanjang hari, lebih lama daripada waktu marahan dulu, bahkan kadang-kadang sampai melupakan hak diri sendiri; gak mau makan, gak mau mandi, nggak mau ngomong (eh, persis korban SUTET ya?). Malahan nggak jarang, banyak juga yang putus asa dan memilih untuk mengakhiri kehidupannya. Oh… kenapa setragis itu? Kalau cinta hanya memakan korban seperti ini, tidaklah mungkin Dia menciptakannya di dalam hati tiap manusia!

Apa yang kita rasa? Kehilangankah? Kehilangan atas apa? Bukankah selama ini, pada hakikatnya, kita juga nggak milikin dia? Dan bukankah selama ini kita cuma seolah-olah milikin dia? Coba kita ulang lagi introspeksi yang tadi! Kita ukur lagi seberapa besar cinta kita sama dia. Yeah… meskipun sedih!

       

Sesuatu Yang Spesial

      Itulah kesedihan yang paling besar kita rasain, pas kita merasa kehilangan sesuatu yang spesial. Mungkin di dunia ini, belom ada orang yang perhatiannya ke kita ngelebihin dia. Mungkin juga di dunia ini, cuma dia yang ngerti kita. Dan mungkin juga cuma dia yang manjain kita.

      Dengan adanya dia, hari-hari kita kerasa lebih indah dan lebih berwarna. Dia setiap saat selalu siap nyemangatin kita, dan juga selalu jadi tumpahan keluh kesah kita. Rasanya, hari-hari selanjutnya akan terasa berat kalo harus kita jalanin sendiri. Separuh hati kita kebawa sama dia. Kita sulit ngelupain dia. Hiks!

      Sebesar apa sih cinta kita sama dia? Apa saat kita nerima dia dulu gara-gara dia sesuai sama kriteria cowok impian kita? Ato karena kita punya suatu rasa khusus tanpa syarat? Bukankah kalo kita emang cinta kita mao ngelakuin apapun yang terbaik?           

                 Tapi jangan pernahkau dustai takdirmu

                 Pasti itu terbaik untukmu

                                                (Aku Bukan Untukmu-Rossa)

      Tentunya udah pada sering denger kan lagu ini? Dan inilah yang kudu kita pahamin. Mungkin kita emang gak ditakdirin buat terus sama dia. Percayalah inilah jalan terbaik yang telah ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan jangan pernah menyesali semua.

      Sabar aja, jodoh udah diatur sama Allah. Kalau kita percaya ini adalah hal yang terbaik, buat apa kita nangis-nangis sampe frustasi? Buat apa juga kita putus asa? Mungkin sulit untuk dipahami dan diterima. Tapi coba pikir baik-baik.

      Putus asa itu dosa, Gals! Apalagi kalau kita sampai berniat buat mengakhiri aja kehidupan yang indah ini cuma karena satu orang cowok. Kenapa kita nggak bersyukur aja atas apa yang udah kita dapatin?

      Hidup adalah suatu karunia. Suatu kenikmatan dan kesempatan yang udah Allah berikan sama kita. Udah selayaknya kita mensyukuri nikmat ini dan kita manfaatin sebaik-baiknya. Coba aja, berapa banyak bayi-bayi yang nggak berhasil dapaten kesempatan mulia ini karena dia diaborsi?

      Kesempatan kita buat kenal dia juga patut kita syukuri. Soalnya, secara nggak langsung kita banyak belajar dari dia. Banyak ilmu yang tanpa kita sadarin udah kita ambil dari interaksi kita dan dia. So, mungkin aja di lain kesempatan (dan di lain gebetan) ilmu itu bisa kita manfaatin. Kenapa enggak?

      Siapa tahu Allah udah nyiapin hamba-Nya yang lebih baik buat kita daripada mantan kita itu. Yang lebih keren, lebih tajir, lebih perhatian, wuah… yang lebih-lebih, deh! Nah, kalau kita sampe putus asa dan bunuh diri, sayang buangget kan?

      Sudahlah, jangan menangis dan jangan putus asa terus-terusan. Jalanin aja hidup ini dan bukalah mata. Lihatlah! Di luar sana masih banyak cowok-cowok yang jauh lebih baik dan masih jomblo! He… he… he….☺

      Cinta yang begitu besar membuat seseorang tidak dapat mencintai lagi (quote ini aku dapetin dari cover album Element, Paradoks). Mungkin ini yang awal-awal kita rasa pas baru putus. Kita susah buat mencintai ato nerima cinta orang lain. Mantan akan selalu terbayang-bayang, nggak cuma di alam mimpi.

Tapi semuanya, pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu. Waktulah yang nantinya akan menyembuhkan patah hati kita, selama kita selalu yakin dan percaya, kalau Allah sayang sama kita, dan kita selalu bersyukur atas apa yang telah dilimpahkan-Nya.

                 Jangan berpikir langit kan runtuh

                Kuatkan hati jangan merapuh

                Semuanya indah pada saatnya nanti

                                                                (Sudah Kehendak-Nya-Jikustik)

 

Jangan Nekat!

      Mungkin udah baca bagian yang sebelum ini, ya. Aku emang nyaranin buat minta maaf dan terus putusin sebelum numpuk dosa. Nah, di sini akan aku jelasin soal penumpukan dosa tadi, yang lebih bahaya daripada penumpukan lemak.

      Temen-temen kayaknya banyak juga yang udah tau kalau pacaran nggak dibolehin dalam agama (ups, kok jadi ceramah ya? Tenang, dikit doang kok!). Sebabnya, karena disinyalir pacaran mendekati zina. Dan ada ayatnya, lho kalau kita nggak boleh mendekati yang namanya zina itu, surah Al-Isra (17): 3.

      Kenapa pacaran dibilang ngedeketin zina? Tentunya para aktivis pacaran udah hapal banget sama hal-hal yang biasa dilakukan pas pacaran. Paling minim ya pegangan tangan (kayaknya nggak mungkin banget deh pacaran gak pegangan tangan). Nah, pegangan tangan itu jadi pembuka buat hal-hal selanjutnya. Apalagi kalo iman gak bercokol kuat di dalam hati. Makanya, kenapa nggak dihindarin aja?

      Berduaan di taman, di tempat gelap, atau di tempat rame tapi nggak ada orang yang kita kenal, jadi jalan buat setan masuk ke dalam hati kita dan dia (pacar kita itu). Nah, karakteristiknya setan itu pasti selalu ngebisikin buat ngelakuin hal-hal yang dilarang sama agama (so far, emang belom ada sih setan yang nunjukin kebaikan. Ugh…!L). Nah, apa kita dan dia sanggup buat ngelawan bisikan-bisikan itu, yang selalu hadir setiap saat, setiap lagi berdua?

      Bakalan nyeremin buangget jadinya kalau kita nggak sanggup buat ngelawan bisikan itu, teman-teman! Serem dunia akhirat! Di dunia aja, bayangin, kita dicaci maki bokap, dibilang merusak diri sendiri, masa depan serta harkat dan martabat keluarga. Udah dicaci maki, buntutnya diusir. Kita mau gimana? Masih bagus kalau pacar kita itu nggak menghilang. Biasanya kan dia raib dengan sendirinya, bagaikan ditelan bumi. Dan kita…. selamat menyesali segalanya!

      Dan di akhirat…. Pasti kita udah tau hukumnya orang yang nekat ngelanggar apa yang udah dilarang sama Allah. Wong kalo di dunia aja melanggar lampu merah langsung disemprit Pak Polisi, dan kita kena denda. Nah, di akhirat, kita emang nggak perlu bayar denda, tapi… ada hukuman yang harus kita jalani. Dan hukuman itu samasekali nggak ringan. Udah kebayang belum?

      Tunggu apa lagi? Tunggu dosa bertumpuk? Udahlah… jangan nekat!

 

Jadinya….

      Cinta emang indah. Selama nggak ada tragedi. Coba kita baca ulang dari awal. Sejak kita mulai jatuh cinta, kita udah ngerasa beban batin yang sangat. Dengan memendam kerinduan, ngelakuin semua hal yang terbaik buat dia meski untuk itu kita harus nentang kata hati kita sendiri, ups! Ditambah lagi rasa curiga pas dia udah jadi pacar kita, was-was, cemburu, dan pengen selalu di deket dia. Belum lagi kalau pas marahan, kita nangis-nangis, bahkan nggak jarang maki-maki. Dan terakhir… pas kita putus, kita putus asa sampai pengen mengakhiri hidup ini. Yeah, mungkin siksaan batin sebelum-sebelumnya akan kerasa banget pas kita ngulang lagi ingetan kita, dan itu kita lakukan pas terjadinya perpisahan itu.

      Meski cinta butuh pengorbanan. Tapi apakah layak dengan mengorbankan diri sendiri? Bukankah itu berarti kita lebih mencintai orang lain dibanding mencintai diri sendiri? Bukankah kita diharuskan belajar mencintai diri sendiri dulu sebelum mencintai orang lain? Bukankah dengan kita menghargai diri sendiri kita bisa berlaku yang sama pada orang lain? Bukankah…. (udah ah!)

      So, yang terpenting yang harus dilakukan pertama kali adalah menata hati. Caranya? Hanya diri kita sendiri yang tau. Okay?

 

  

                                                                                                                                                    Dengan segenap cinta:

                                                                 Untuk seseorang yang selalu jadi semangatku